Kemana kau akan melangkah?

Sitoplasma

Sel merupakan satuan struktural yang fundamental dan fungsional bagi kehidupan. Dimana sel adalah unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi. Bagi mikroorganisme uniselular, sel itu bukan saja merupakan satuan struktural, tetapi adalah organisme itu sendiri. Sebaliknya, organisme multiselular merupakan sel-sel yang tersusun menjadi satuan-satuan yang terpadu ke dalam sistem atau berbagai sistem yang bersama-sama membentuk organisme hidup.
Kata sel ditemukan pada abad 17 oleh Robert Hook yang melakukan penelitian mengenai struktur halus gabus dan bahan-bahan tumbuhan lainnya. Struktur seperti sarang lebah yang diamatinya pada irisan tipis gabus disebabkan oleh dinding-dinding sel utuh yang berasal dari sel yang sebelumnya hidup. Namun konsepsi sel sebagai satuan hidup struktural, dikenal dengan teori sel, diperkenalkan oleh dua orang Jerman yaitu Matthias Schleiden dan Theodore Schwann pada tahun 1838 sampai 1839. Mereka berpendapat, bahwa semua sel apa pun organismenya, sangat serupa strukturnya.
Setiap sel terbungkus oleh membran, lapisan material teramat tipis yang meliputi substansi suatu sel; masing-masing nukleus, yaitu protoplasma ditengah-tengah sel yang terdiferensiasi dan kaya akan nukleoprotein atau tubuh nuklir yang setara, dan masing-masing mengandung sitoplasma.
Sitoplasma berasal dari bahasa Yunani yaitu sito yang berarti sel dan plasma yaitu substansi terbentuk. Di dalam sitoplasma terdapat berbagai entiti struktural atau partikulat ( berkenaan dengan partikel). Biasanya sitoplasma dianggap sebagai semua bahan non struktural yang terdapat di dalam membran.

Sitoplasma merupakan cairan sel kompleks, yakni suatu koloid encer yang sekaligus mengandung berbagai zat terlarut. Dalam plasma terdapat banyak bahan anorganis dan organis, yang terlarut dan yang tak larut ( koloid ). Bahan anorganis ialah garam mineral, air, dan gas (oksigen, karbondioksida dan amoniak). Bahan organis ialah karbohidrat, lemak, protein ( termasuk asam amino dan enzim), hormon, vitamin, dan asam nukleat berupa ARN (Asam Ribosa Nukleat), disebut ARN-transfer. Perbedaan kedua bahan tersebut membentuk energi potensial dalam membran sel yang kemudian dimanfaatkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi hidup.
Sitoplasma adalah bagian sel yang terbungkus membran sel. Pada sel eukariota, sitoplasma adalah bagian non-nukleus dari protoplasma. Walaupun semua sel memiliki sitoplasma, setiap jaringan maupun spesies memiliki ciri-ciri yang jauh berbeda antara satu dengan yang lain.
Struktur dan Fungsi Sitoplasma
a. Struktur Sitoplasma
Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kimia. Ukurannya tergantung dari ukuran sel itu sendiri. Terletak di antara membran sel dan inti sel. Pada sitoplasma terdapat kerangka sel (sitoskeleton), berbagai organel dan vesikuli (“gelembung”), serta sitosol yang berupa cairan tempat organel melayang-layang di dalamnya. Sitosol mengisi ruang sel yang tidak ditempati organel dan vesikula dan menjadi tempat banyak reaksi biokimiawi serta perantara transfer bahan dari luar sel ke organel atau inti sel.
Bentuk sitoplasma merupakan amorfus (tiada bentuk) yang membenami organel dan rangkuman sel. Ia dibentuk oleh bahan-bahan seperti enzim, berbagai-bagai jenis protein, nutrien dan garam logam.
b. Fungsi Sitoplasma
Sitoplasma memiliki fungsi mengendalikan lalu lalangnya bahan keluar masuk sel. Hampir semua kegiatan metabolisme berlangsung di dalam ruangan berisi cairan kental. Di dalam sitoplasma terdapat organel-organel yang melayang-layang dalam cairan kental (merupakan koloid, namun tidak homogen) dan bersifat hidup yang disebut matriks. Organel dalam sitoplasma yaitu ribosom, retikulum endoplasma, mitokondria, lisosom, sentrosom, badan golgi, dan vakuola. Organellah yang menjalankan banyak fungsi kehidupan, meliputi sintesis bahan, respirasi (perombakan), penyimpanan, serta reaksi terhadap rangsangan. Sebagian besar proses di dalam sitoplasma diatur secara enzimatik. Selain organel, terdapat pula vakuola, butir-butir tepung, butir silikat dan berbagai produk sekunder lain. Vakuola memiliki peran penting sebagai tempat penampungan produk sekunder yang berbentuk cair, sehingga disebut pula ‘cairan sel’. Cairan yang mengisi vakuola berbeda-beda, tergantung letak dan fungsi sel.
Sitosol yang disebut juga hialoplasma, merupakan bagian sitoplasma yang berada di sela-sela organela berselaput. Beribu-ribu jenis enzim yang terlibat dalam proses metabolisme intermedia terlarut di dalamnya. Salah satu contoh metabolisme intermedia adalah proses glikolisis dan glikoneogenesis. Selain itu, cairan ini dipenuhi oleh ribosoma, mRNA maupun tRNA, yang aktif mensintesis protein. Sekitar 50% protein hasil sintesis yang dilakukan ribosoma, ditentukan tetap berada di dalam sitosol. Sebagian dari protein yang berada di sitosol, berbentuk benang-benang halus yang disebut filamen. Filamen-filamen ini teranyam membentuk rerangka, yang diberi nama rerangka sel atau sitoskelet. Rerangka sel memberi bentuk pada sel, mengatur dan menimbulkan gerakan sitoplasmik yang beruntun dan berkaitan, serta membentuk jaring-jaring kerja yang membantu mengatur reaksi-reaksi enzimatis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.