Kemana kau akan melangkah?

Evaluasi Zat Gizi Protein Menggunakan Tikus Percobaan

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Protein merupakan zat yang paling penting dan dibutuhkan oleh semua organisme. Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian tubuh terbesar setelah air. Protein tersusun atas beberapa unit zat yang dinamakan “ asam amino” (Almatsier,Sunita. 2003). Mulai abad 20, mulai dilakukan evaluasi terhadap nilai protein dan komposisi asam amino esensial dalam protein yang dilakukan melalui percobaan pada tikus (Nasoetion,Amini)
Kemampuan suatu protein untuk dihidrolisis menjadi asam amino oleh enzim pencernaan ( protease ) dikenal dengan istilah daya cerna protein (digestibility). Di dalam tubuh organisme sudah terdapat protein yang disebut protein endogen yang berasal dari hormone yang dikeluarkan oleh tubuh kita, namun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, oleh sebab itu untuk meningkatkan protein tubuh dibutuhkan konsumsi pangan sumber protein yang cukup ,baik pangan nabati maupun hewani. Hampir semua bahan pangan hewani seperti susu, telur, daging, ikan merupakan sumber protein yang baik. Sedangkan bahan makanan sumber protein nabati terdapat pada kacang – kacangan terutama kedele dan kacang hijau serta olahannya seperti tempe dan tahu ( Auliana, 1999 ).
Untuk menentukan kualitas protein suatu pangan dapat dilihat dari seberapa banyak protein tersebut dapat dicerna dan diserap oleh tubuh. Suatu protein yang mudah dicerna menunjukan bahwa jumlah asam amino yang dapat diserap dan digunakan tubuh, karena sebagian besar akan dibuang oleh tubuh bersama feses ( Muchtadi, 1989 ). Oleh sebab itu perlu diadakan analisis lebih lanjut mengenai daya cerna protein dari suatu bahan pangan. Pengukuran daya cerna protein ini menggunakan tikus, karena diasumsikan bahwa tikus putih memiliki kesamaan fisiologis dengan manusia. Dalam praktikum ini, ransum sumber protein yang diberikan kepada tikus adalah ransum rebon, tempe, casein, dan ransum non protein.

Tujuan Praktikum
Praktikum evaluasi nilai gizi menggunakan tikus percobaan ini bertujuan untuk mengetahui daya cerna protein serta mutu protein dalam bahan pangan yang diujikan dengan menghitung nilai PER (Protein Efficiency Ratio), nilai NPU (Net Protein Utilization), nilai BV (Biological Value), dan nilai daya cerna protein (digestibility of protein)

Prinsip Praktikum
Evaluasi Nilai Gizi Protein menggunakan tikus percobaan ini dilakukan secara in vivo dengan menggunakan tikus putih sebanyak 12 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan yaitu kelompok tempe, rebon, non protein dan casein . Pada praktikum ini ada beberapa tahap yang dilakukan. Pada tahap awal adalah masa adaptasi yang dilakukan selama selama 3 hari, pada masa adaptasi ini semua tikus diberikan ransum kontrol (casein). Pada hari ke 4-14 masing-masing kelompok memberikan ransum sesuai dengan jumlah yang diberikan pada masa adaptasi yaitu sebanyak 10 gr. Pada hari ke 4-14 dilakukan penimbangan berat badan tikus dalam 2 hari sekali, sedangkan penimbangan feses dan urin dilakukan setiap hari.Setelah pemberian ransum berakhir, maka selanjutnya dilakukan analisis kimia lebih lanjut melalui proses pemurnian, destilasi, kemudian titrasi hingga pada akhirnya diketahui kandungan nitrogen pada feses, urin, dan ransum. Data yang diperoleh diolah untuk mendpatkan hasil PER,NPU,BV, serta digestibility protein dari pangan yang diujikan.

TINJAUAN PUSTAKA
Protein
Istilah protein berasal dari bahasa Yunani proteos yang berarti utama atau yang didahulukan. Kata ini diperkenalkan oleh seorang ahli Belanda, Gerardus Mulder (1802-1880). Mulder mengisolasi susunan tubuh yang mengandung nitrogen dan menamakannya Protein. Protein terdiri dari satuan dasarnya yaitu asam amino ( biasa disebut juga dengan unit pembangunan protein ) ( Almatsier, Sunita.2003 ).
Protein adalah bagian dari semua dari sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Semua enzim, zat pembawa dalam darah, matriks, intraseluler dan sebagian besar hormone tersusun atas protein. Dalam membentuk protein jaringan dibutuhkan sejumlah asam amino dan tergantung pada macam asam amino sesuai dengan jaringan yang akan dibentuk. Asam amino ini didapat dari makanan sesudah diserap melalui darah dan sebagian disintesa dalam tubuh atau merupakan hasil katabolisme atau perombakan dari protein jaringan yang sudah rusak ( Auliana, R. 1999 ).Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.

Evaluasi Nilai Gizi Protein Menggunakan Tikus Percobaan
Terdapat lima macam “Basic Stock” tikus putih ( Albino Normay rat, Rattus Norvegicus ) yang biasa digunakan sebagai hewan percobaan di laboratorium, yaitu Long evans, Osborne Mendel, Shermen, Sprague Dewley dan Wistar. Beberapa sifat karakteristik tikus percobaan adalah:
1. Noctural, berarti aktif pada malam hari, tidur pada siang hari
2. Tidak mempunyai kantung empedu ( gall bladder )
3. Tidak dapat mengeluarkan isi perutnya ( muntah )
4. Tidak pernah berhenti tumbuh, walaupun kecepatannya menurun setelah berumur 100 hari
Zat – zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tikus hampir sama dengan manusia, yaitu karbohidrat yang terdiri dari pati, gula, dan selulosa. Lemak esensial ( terutama linoleat dan linolenat karena karbohidrat dapat disintesis dalam tubuhnya dari linoleat ). Bila kekurangan asam lemak esensial kulitnya bersisik, pertumbuhannya terhambat dan pada kasus berat dapat menimbulkan kematian ( Muchtadi.1989 ).
Protein asam amino esensial bagi tikus ada 10 macam, yaitu: lisin, histidin, triptofan, fenilalanin, leusin, isoleusin, treonin, methionin, valin dan arginin. Arginin sesungguhnya dapat disintesis dalam tubuh tikus, tetapi hanya cukup untuk pemeliharaan dan tidak cukup untuk pertumbuhan maksimum. Mineral atau elemen organik, terdiri dari makro elemen kalsium, fosfor, magnesium, kalium, natrium, chlor dan belerang. Sedangkan mikro elemen terdiri dari besi, tembaga, kobalt, mangan, selenium, iod, seng dan molibdenum (Muchtadi.1989).
Kandang tikus harus berlokasi pada tempat yang bebas dari suara ribut, dan terjaga dari asap industri atau polutan lainnya. Suhu optimum ruangan untuk tikus adalah 22 – 240 C dan kelembaban udara 50 – 60 %, dengan ventilasi yang cukup ( jangan ada jendela terbuka ). Cahaya harus diusahakan agar terdapat keadaan 12 jam gelap dan 12 jam terang (di daerah tropis seperti di Indonesia, hal ini tidak merupakan masalah). Ukuran kandang yang standar adalah 7×9, 5×7 inci, yaitu untuk 1 ekor tikus. Kandang harus terbuat dari bahan yang tidak mudah berkarat. Tempat makanan harus dibuat cukup besar untuk “ad litum feeding”. Demikian juga tempat minum, harus mudah dicapai oleh tikus; botol tempat air minum harus dibersihkan setiap 1 minggu sekali ( Muchtadi.1989 ).
Dalam penggunaan tikus sebagai hewan percobaan, harus diperhatikan penanganannya; tikus tidak boleh ditangani dengan meggunakan alat, artinya harus dipegang dengan tangan dan jangan dipegang dengan ekornya. Tikus harus dipegang dengan cara menempatkan telapak tangan pada punggungnya, ibu jari serta telapak tangan untuk memegang kaki – kaki depan dibawah lehernya ( Muchtadi. 1989 ).
Umumya yang digunakan adalah tikus – tikus yang baru disapih (umur ± 21 hari ). Sebelum percobaan dimulai harus dilakukan masa adaptasi selama 4 – 5 hari untuk membiaskan tikus pada lingkungan laboratorium. Selain itu, pada masa adaptasi ini dapat digunakan pengamatan apakah tikus dapat terus digunakan dalam percobaan ( tidak sakit ) ( Muchtadi. 1989 ).
Pada masa adaptasi ini biasanya diberikan “ semi syntetic diet “ atau ransum yang digunakan sebagai kontrol, yaitu kasein atau laktalbumin sebagai sumber proteinnya, dicampur dengan bahan – bahan lain (karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral).Bahan – bahan makanan tersebut hanya boleh dicampurkan apabila akan digunakan dan untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan akibat pengaruh fisik, kimia atau mikrobiologis. Sebaiknya bahan –bahan tersebut disimpan pada suhu 4o C didalam refrigerator (Muchtadi.1989).
Penentuan PER ( Protein Efficiency Ratio ) dan NPR ( Net Protein Ratio )
PER yang dikembangkan oleh Osborne, Mendel, dan Ferry pada tahun 1919 adalah prosedur evaluasi nilai gizi protein yang paling banyak digunakan. Bahkan juga telah diterima sebagai metode resmi FDA ( Food and Drug Administration, USA ) dalam penentuan mutu protein untuk tujuan “Nutrition Labelling”. Prosedur yang digunakan untuk penetuan PER adalah metode yang terdapat dalam AOAC ( 1984 ).
PER adalah suatu pengujian 28 hari dengan kasein ANRC ( Animal Nutrition Research Council ) sebagai protein reverensi. Berat tikus dan konsumsi ransum harus diukur secara berkala ( umumnya berat badan tikus tiap 2 hari, sedangkan konsumsi ransum diukur tiap hari ). Tikus harus diberi kandang masing – masing ( 1 ekor dalam 1 kandang ) dan diberi ransum serta air minum ad libitum yang berarti tikus – tikus tersebut diberi keleluasaan kapan saja mereka mau makan dan minum serta jumlahnya tidak dibatasi.
Perhitungan PER dilakukan dengan menggunakan rumus :
Pertambahan Jumlah BB
Jumlah Protein yang Dikonsumsi
Prosedur PER yang ditetapkan oleh AOAC ini mempunyai beberapa masalah, antara lain adalah komposisi ransum. Dimana hal ini banyak dimodifikasi disesuaikan dengan ketersediaan bahan – bahan ditempat si peneliti. Telah diteliti bahwa yang paling berpengaruh terhadap nilai PER adalah kadar protein dalam ransum. Oleh karena keseragaman ditetapkan bahwa kadar protein ransum adalah 100 %.
NPR ( Net Protein Ratio ) dikembangkan oleh Bender dan Doel pada tahun 1957 dengan tujuan untuk memecahkan masalah – masalah teoritis yang terdapat pada PER. Dalam penentuan NPR, baik ransum maupun persyaratan tikus yang digunakan sama dengan yang terdapat pada penentuan PER. Bedanya adalah pada NPR ditambahkan 1 grup tikus yang diberi ransum non protein dan percobaan hanya dilakukan selama 10 hari.
NPR dihitung dengan menggunakan rumus :
Pertambahan berat (protein uji) – penurunan berat (non protein)
Konsumsi protein uji
Penurunan berat dihitung sebagai angka rata – rata penurunan berat badan dari grup tikus yang menerima ransum non protein. NPR dihitung untuk tiap – tiap ekor tikus dan nilai rata – ratanya dihitung untuk tiap grup. Selanjutnya nilai NPR rata – rata tersebut dinyatakan sebagai persentase dari nilai NPR kasein sebagai grup kontrol.

Penentuan NPU dan Daya Cerna
Thomas pada tahun 1909 menguraikan untuk pertama kalinya suatu metode kuantitatis untuk mengevaluasi suatu protein secara biologis. Metode ini dikenal dengan sebutan Nilai Biologis ( Biological Value, BV ). Metode ini dikembangkan dengan menggunakan subjek orang dewasa. Thomas mengekspresikan BV dengan rumus :
Nitrogen tertinggal dalam tubuh
Nitrogen yang diabsorbsi
Pekerjaan tersebut sangat sulit untuk dilaksanakan, karena memerlukan ketelitian dalam hal pengumpulan dan pengukuran makanan serta “excreta”. Mitchell pada tahun 1923 – 1924 mengadopsi metode tersebut pada tikus, baik pada tikus muda maupun dewasa. Selanjutnya mendefinisikan BV dengan rumus
N konsumsi – ( N feses – N metabolik ) – ( N urine – N endogen )
N konsumsi – ( N feses – N metabolik )
N metabolik dan N endogen diukur pada hewan yang diberi ransum bebas protein. Dari data tersebut dapat dihitung daya cerna sejati ( True Digestibility, D) dengan rumus :
N konsumsi – ( N feses – N metabolik )
N konsumsi
Dan untuk menghitung Digestibility Apparent dapat dihitung dengan menggunakan rumus ;
N konsumsi – N feses
N konsumsi
Perbedaan dari Dt dan Da adalah, Dt mempertimbangkan kehilangan nitrogen melalui feces dari tikus yang diberi diet non protein (sebagai koreksi) sedangkan Da tidak mempertimbangkan kehilangan nitrogen tersebut.
Oleh karena NPU sama dengan N yang tertinggal dalam tubuh / N yang dikonsumsi, sedangkan BV – N yang tertinggal dalam tubuh / N yang diabsorbsi dan D = N yang diabsorbsi / N yang dikonsumsi, maka NPU = BV x D, dan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
N konsumsi – ( N feses – N metabolik ) – ( N urine – N endogen )
N konsumsi
Pada akhir percobaan, feses dikeringkan dalam oven lalu dihancurkan sampai halus. Penentuan kadar nitrogen dalam feses dan urin dilakukan terhadap sejumlah kecil sampel. Kemudian dikalikan dengan masing – masing berat feses dan urin. Penentuan NPU dilakukan untuk masing – masing tikus. Kemudian rata – ratanya dihitung per grup. Penentuan kadar nitrogen seperti biasanya dilakukan dengan menggunakan metode kjedahl.

METODELOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat Praktikum
a. Pembuatan Ransum
Pembuatan ransum di mulai pada tanggal 8 dan 9 Desember 2009 di laboratorium Biokimia dan Evaluasi Nilai Gizi GM.lantai 2 IPB Dramaga
b. Pemberian Ransum Kontrol/Tahap adaptasi
Tahap adaptasi dilakukan pada tanggal 15-17 Desember 2009 di Ruang Laboratorium Hewan IPB Dramaga.
c. Pemberian Ransum, penimbangan BB, sisa ransum, dan urin
Pemberian ransum pada hewan percobaan dimulai pada tanggal 18 – 28 Desember di Laboratorium Hewan. Untuk penimbangan BB tikus dilakukan setiap 2 hari sekali, yaitu pada tanggal 17, 19, 21, 23, 25, 27, Desember 2009 di laboratorium hewan IPB Dramaga, penimbangan sisa ransum dan urin dilakukan setiap hari yaitu mulai tanggal 19 – 28 Desember 2009 di laboratorium hewan IPB Dramaga
d. Analisis Zat Gizi ( Protein )
Analisis zat gizi ( protein ) pada hewan percobaan dilakukan pada hari Selasa 29 Desember 2009 dan 5 Januari 2010 di laboratorium biokimia dan Evalusi Nilai Gizi lantai 2 IPB Dramaga

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ransum sebagai bahan utama yang diperoleh dari KH ( tepung maizena ) 255 gr, mazola 24 gr, CMC 3 gr, vitamin mix 3 gr, mineral mix 15 gr, dan aquades secukupnya sebagai bahan pengental. Selain ransum, bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah bahan – bahan yang digunakan dalam proses destilasi, yaitu Selenium mix ± 0,5 gr / ½ sdt, H2SO4 25 ml, NaOH 30 %, Asam Sorbat 3 %, Indikator MM:MB (methilen blue), HCL 0,222672 N
Alat – alat yang digunakan selama praktikum adalah baskom, sendok, plastik bening, pisau, talenan, penggilingan, oven, loyang, timbangan digital dengan ketelitian 0,1 gr dan 0,0001 gr, kandang khusus untuk tikus percobaan, erlemeyer untuk urin, nampan plastik untuk wadah feses, dot minum tikus, pinset, handsgloves, labu kjedhal, destilator, spatula, pipet tetes, pipet gondok 10 ml dan 25 ml, red ball, gelas kimia,labu destilasi, labu takar 100ml, penanggas destruksi dan buret.

Prosedur Kerja
Pembuatan Ransum

Pemberian Ransum dan penimbangan BB, Urin, dan Feses

Proses Destilasi

HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari praktikum evaluasi zat gizi menggunakan tikus percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat 1 tikus ( Kitaro ) yang mati pada hari ke-1 atau tepatnya pada tanggal 16 Desember 2009. Sehingga untuk perhitungan PER, NPU, BV dan Digestibility pada kelompok tikus yang diberi ransum non protein hanya diperoleh dari untuk 2 tikus yaitu hamtaro dan ribon. Hasil lengkap dari praktikum adalah sebagai berikut:
1. Perubahan Berat Badan
Berdasarkan hasil penimbangan terhadap berat badan pada tikus, didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Penimbangan Perubahan BB Tikus ( gr )
Kelompok Penimbangan Perubahan BB Tikus
1 2 3 4 5 6
Tempe
Rebon 45,0 43,9 51,1 57,0 49,3 48,5 3,5
Non protein 40,9 38,5 37,5 33,6 32,0 31,3 -9,6
Casien 30,2 32,8 33,4 32,5 33,0 34,0 3,8
Sumber: data olahan praktikum ENG 2009
Berdasarkan table 1 di atas, diketahui bahwa tikus yang diberikan ransum non protein, berat badannya cenderung turun dari berat awal 40,9 gr menjadi 31,3 gr pada akhir perlakuan. Sedangkan pada tikus yang diberikan ransum yang mengandung protein seperti casein, rebon dan tempe berat badannya cenderung meningkat. Penurunan berat badan pada tikus yang diberikan ransum non protein disebabkan karena dalam ransum tidak mengandung protein yang fungsi utamanya untuk pertumbuhan jaringan baru. Tidak adanya kandungan protein dalam ransum menyebabkan tidak adanya suplay protein yang membantu pertumbuhan jaringan yang baru,dimana kita ketahui tikus ini masih pada masa pertumbuhan (Almatsier,Sunita.2003).
Selain dari itu ada penyebab yang secara tidak langsung yang dapat mempengaruhi perubahan berat badan tikus, yaitu faktor lingkungan yang kurang baik yang dapat menyebabkan tikus tersebut mudah mengalami stres. Sehingga pada akhirnya mengganggu nafsu makan dari tikus itu sendiri (Anonim. 2009).

Sesuai dengan pernyataan Roger (1979) bahwa salah satu kriteria untuk pertumbuhan dan perkembangan tikus adalah adanya kecukupan nutrisi dalam ransum sehingga berpengaruh positif pada pertambahan berat badan tikus. Selain itu kualitas dari protein pada ransum juga sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tikus, yaitu kandungan asam-asam amino esensial yang lebih lengkap ( Effendi. 2006 ).
Konsumsi protein dan energi yang rendah akan menyebabkan penurunan berat badan dan massa otot termasuk massa organ internal. Muchtadi (1993) menjelaskan bahwa peningkatan dan pertambahan massa otot hanya mungkin terjadi apabila tersedia protein dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan yang dibutuhkan untuk pemeliharaan dan penggantian jaringan. Akibat tidak adanya energi dan kurangnya asupan protein maka kondisi tubuh menjadi lesu menyebabkan berkurangnya aktivitas dan nafsu makan ( Effendi. 2006 ).
2. Konsumsi Ransum
Tabel 2. Konsumsi Ransum ( gr )
Grup Konsumsi Tikus / tanggal
19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Total
Non Protein 2.2 2.0 4.2 2.6 2.0 3.6 2.8 2.6 2.1 4.3 28.4
Rebon 1.5 3.4 7.5 8.2 7.2 2.1 2.2 2.5 4.7 0.7 40
Casein 3.1 3.7 2.6 2.2 2.3 4.9 1.8 5.3 3.8 3.5 33.2
Tempe
Sumber: data olahan praktikum ENG 2009
Berdasarkan tabel 2 diatas diketahui bahwa dari 100 gr ransum yang diberikan kurang dari 50% yang dikonsumsi oleh tikus. Konsumsi ransum yang terendah yaitu pada tikus yang diberi ransum non protein sebesar 28.4%. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tingkat kesukaan tikus tersebut terhadap ransum yang diberikan dan juga kualitas dari ransum yang diberikan dapat mempengaruhi konsumsi tikus terhadap ransum yang diberikan ( Muchtadi. 1989 )
secara tidak langsung dapat juga disebabkan karena faktor lingkungan yang tidak baik sehingga menyebabkan tikus mengalami stress yang dapat berpengaruh pada nafsu makan tikus.

3. Penentuan Protein Efficiency Ratio ( PER )
Berdasarkan hasil perhitungan PER pada percobaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa nilai PER pada grup tikus yang diberi ramsum non protein tidak ada karena konsumsi proteinnya nol/tidak ada. Berdasarkan teori yaitu sebesar semakin tinggi pertambahan berat badan maka semakin tinggi nilai PER, hal tersebut menunjukan bahwa protein yang diberikan digunakan dengan baik untuk pertumbuhan ( Effendi. 2006 ). Sedangkan pada tikus yang diberikan non protein berat badannya mengalami penurunan.
4. Net Protein Utilization ( NPU )
Net Protein Utilization (NPU) digunakan untuk mengukur kualitas protein dengan mempertimbangkan nilai cerna antar protein, artinya tidak saja memperhatikan jumlah protein yang ditahan akan tetapi juga jumlah protein yang mampu dicerna.
Pada praktikum ini tidak dapat menentukan nilai NPU disebabkan karena tidak diketahuinya jumlah nitrogen pada feses yang dikarenakan kemungkinan sampel yang digunakan terlalu sedikit dan juga karena adanya kesalahan pada saat pelaksanaan praktikum. Tidak diketahuinya jumlah nitrogen pada feses tikus yang diberi ransum non protein menyebabkan tidak dapat menentukan nilai BV (Biological Value) dan nilai Digestibility baik True Digestibility maupun Apparent Digestibility, dari data yang di dapatkan hanya dapat menghitung % total nitrogen dan % protein. Nilai % total nitrogen pada ransum 39,75 %,dan % protein ransum 2,48%. Nilai % total nitrogen urin 30,97% dan nilai % protein urin 1,9 %

PENUTUP
Kesimpulan
Pada akhir praktikum dapat disimpulkan bahwa tikus yang diberikan ransum non protein mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis, sedangkan tikus yang diberikan ransum yang mengandung protein (rebon, tempe, dan casein) mengalami peningkatan berat badan.
Jumlah nitrogen pada feses tikus yang diberikan ransum non protein tidak diketahui (tidak terbaca) pada saat titrasi. Tidak adanya jumlah nitrogen feses ini menyebabkan tidak dapat menghitung nilai PER, NPU, BV, dan nilai Digestibility
Apabila dilihat dari perkembangan berat badan tikus dapat disimpulkan bahwa ransum rebon, tempe, dan casein merupakan jenis ransum yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tikus dibandingkan dengan ransum non protein.

Saran
Bahan pangan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung protein, karena protein merupakan zat gizi yang sangat penting bagi tubuh, yang fungsi utamanya yaitu untuk pertumbuhan jaringan baru dan memperbaiki jaringan yang rusak, sehingga tubuh dapat tumbuh optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Auliana, R. 1999. Gizi dan Pengolahan Pangan. Yogyakarta : Adicita
Muchtadi, D. 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor
Nasution, Amini dan Damayanti Evy 2008..Ilmu Gizi Dasar: Institut Pertanian Bogor

2 responses

  1. nyamuk idiot

    maap kakak, blognya susah banget di bacanya ya. terlalu panjang

    May 15, 2011 at 8:19 pm

    • imurelsa

      hehe, iya dek

      May 15, 2011 at 8:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s