Kemana kau akan melangkah?

Asam Boraks, amankah?

Seperti kita ketahui bersama saat ini banyak ditemukan bahan pengawet yang dilarang untuk digunakan dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya boraks dan formalin. Boraks banyak digunakan dalam berbagai makanan seperti bakso, mie basah, pisang molen, lemper, buras, siomay, lontong, ketupat, dan pangsit, dan selain bertujuan untuk mengawetkan juga dapat dapat membuat makanan lebih kompak (kenyal) teksturnya dan memperbaiki penampakan. Akan tetapi boraks sangat berbahaya bagi kesehatan. Boraks bersifat sebagai antiseptic dan pembunuh kuman, oleh karena itu banyak digunakan sebagai anti jamur, bahan pengawet kayu, dan untuk bahan antiseptic pada kosmetik. Penggunaan boraks seringkali tidak disengaja karena tanpa diketahui terkandung di dalam bahan-bahan tambahan seperti pijer atau bleng yang sering digunakan dalam pembuatan baso, mie basah, lontong dan ketupat.
Asam Borat (H3BO3) merupakan senyawa bor yang dikenal juga dengan nama boraks. Digunakan ke dalam pangan atau bahan pangan sebagai pengenyal ataupun pengawet. Asam borax berbentuk serbuk hablur kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis.
Efek farmakologi dan toksisitas senyawa borob atau asam borat merupakan bakterisida lemah. Larutan jenuhnya tidak membunuh Staphylococcus aureus. Oleh karena toksisitas lemah sehingga digunakan sebagai bahan pengawet pangan. Walaupun dengan demikian, pemakaian berulang atau absorbsi berlebihan dapat mengakibatkan toksik (keracunan). Gejala dapat berupa mual, muntah, diare, suhu tubuh menurun, lemah, sakit kepala, rash erythematous, bahkan dapat menimbulkan shock. Kematian pada orang dewasa dapat terjadi dalam dosis 15-25 gram, sedangkan pada anak dosis 5-6 gram. Absorbsinya melalui saluran saluran cerna, sedangkf besaan eksresinya yang utama melalui ginjal. Jumlah yag relatif besar pada otak dan ginjal. Dilihat dari efek farmakologi dan toksisitasnya, maka asam borat dilarang digunakan dalam pangan.

Comments are closed.